![]() |
| Buku berjudul "Cerita Suwata" Pengabdian 12 Tahun di Dunia Pendidikan |
Magetan, beritagress.com - Setelah hampir empat dekade mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Magetan, Suwata resmi memasuki masa purna tugas. Terhitung mulai Rabu (1/7/2026), ia tidak lagi menjalankan aktivitas kedinasan setelah mengakhiri pengabdiannya pada Selasa (30/6/2026).
Selama 39 tahun mengabdi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magetan, Suwata dikenal sebagai sosok birokrat yang banyak menorehkan gagasan dan kebijakan, terutama saat dipercaya memimpin sektor pendidikan. Sebelum menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan, ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Magetan selama kurang lebih 12 tahun.
Perjalanan panjangnya di dunia pendidikan kemudian ia abadikan dalam sebuah buku berjudul Cerita Suwata | Pengabdian 12 Tahun di Dunia Pendidikan Magetan. Buku tersebut menjadi bentuk refleksi sekaligus persembahan bagi dunia pendidikan Magetan, berisi pengalaman, perjuangan, serta nilai-nilai pengabdian yang ia jalani selama memimpin sektor pendidikan.
Salah satu kisah menarik dalam buku tersebut adalah perubahan cara pandang Suwata terhadap profesi guru. Pada 2009, ketika dipercaya menjadi Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PTK), ia mengaku sempat memiliki pandangan berbeda terhadap guru.
Saat itu, ia melihat masih banyak guru yang belum memperoleh hak sertifikasi. Dari sekitar 2.000 guru di Magetan, baru sekitar seratusan yang telah tersertifikasi. Kondisi tersebut justru menjadi titik balik baginya untuk berjuang memperbaiki kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Dari yang awalnya mempertanyakan peran guru, Suwata kemudian memahami besarnya tanggung jawab seorang pendidik. Ia bekerja keras mendorong percepatan sertifikasi guru hingga banyak tenaga pendidik memperoleh pengakuan profesional. Pandangan yang awalnya berjarak berubah menjadi kepedulian dan penghargaan terhadap perjuangan guru.
Berbagai program pendidikan juga lahir dalam masa kepemimpinannya, mulai dari penguatan program guru penggerak, tata tertib sekolah, seragam adat, hingga program beasiswa bagi mahasiswa. Sejumlah inovasi tersebut bahkan mendapat perhatian dari jajaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Buku Cerita Suwata tidak hanya menjadi catatan perjalanan seorang pejabat, tetapi juga merekam nilai kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan dan kebermanfaatan. Sejumlah tokoh yang pernah bersentuhan langsung dengan kiprahnya turut memberikan kesan.
![]() |
| Salah satu potret kepedulian Suwata terhadap dunia pendidikan |
Kabid Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi dan UKM Magetan, Diantina Wiwied, mengungkapkan salah satu pesan Suwata yang selalu ia pegang hingga kini.
“Jangan merepotkan dan meminta uang pada guru,” menjadi prinsip yang ia wariskan sebagai bentuk integritas dalam menjalankan amanah.
Kesan positif juga datang dari Owner Ceria Center Madiun, Anita Nurrul Febrianti, yang menilai Suwata sebagai sosok pemimpin yang memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
Menurutnya, kepedulian seorang pemimpin terhadap masyarakat menjadi hal penting yang tidak selalu mudah ditemukan.
Melalui buku tersebut, Suwata ingin menyampaikan pesan bahwa pengabdian sejatinya bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Ia mengibaratkan kehidupan seperti menanam. “Tidak akan pernah menuai padi jika menanam rumput liar. Begitu juga kehidupan, ketika kita menanam kebaikan dan kebahagiaan, maka suatu saat kebaikan itu akan kembali kepada kita.”
Pesan tersebut menjadi warisan nilai dari perjalanan panjang Suwata sebagai seorang ASN. Ia berharap semangat memberikan manfaat terus tumbuh di tengah masyarakat Magetan.
Buku Cerita Suwata setebal 81 halaman tersebut kini dalam proses cetak oleh Magetankita Books dan rencananya akan dibagikan kepada sekolah tingkat SD dan SMP di Kabupaten Magetan sebagai inspirasi bagi generasi pendidikan berikutnya. (Gun)






