Magetan, beritagress.com-Tradisi bukan sekadar cerita masa lalu, namun menjadi jembatan untuk menjaga identitas, memperkuat kebersamaan, sekaligus membuka ruang kreativitas bagi generasi masa kini.
Semangat itulah yang kembali dihidupkan masyarakat Desa Terung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan melalui Festival Merti Bumi Terung yang digelar setiap bulan Suro atau Muharam.
Kegiatan tahunan tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat terhadap anugerah bumi sekaligus momentum mempererat nilai gotong royong yang selama ini menjadi karakter kehidupan pedesaan. Seluruh lapisan masyarakat terlibat dalam festival, mulai dari RT 1 hingga RT 10, yang tampil membawa gagasan dan kreasi terbaiknya dalam rangkaian karnaval budaya.
Yang menjadi pembeda dalam Festival Merti Bumi Terung adalah bagaimana masyarakat mampu mengangkat tempe bukan hanya sebagai produk pangan, melainkan sebagai simbol kekuatan ekonomi, kreativitas, dan jati diri desa. Setiap peserta menghadirkan karya dengan bahan utama tempe yang dikemas dalam berbagai bentuk menarik, penuh filosofi, dan sarat pesan tentang kehidupan masyarakat.
Kepala Desa Terung, Suwarno, menyampaikan bahwa festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa potensi lokal mampu menjadi karya yang bernilai tinggi.
“Setiap peserta dari RT 1 sampai RT 10 memiliki kreasi masing-masing dengan bahan baku tempe. Ini bukan hanya tentang tampilan karnaval, tetapi bagaimana masyarakat mampu mengangkat produk lokal menjadi bagian dari budaya dan kebanggaan Desa Terung,” ucap Suwarno saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan. Sabtu (20/6/2026)
![]() |
| Kepala Desa Terung, Suwarno |
Menurutnya, tempe yang selama ini identik sebagai makanan sederhana memiliki makna yang lebih luas. Di balik proses pembuatannya terdapat nilai kesabaran, kerja keras, kebersamaan, serta semangat masyarakat dalam mengembangkan potensi desa.
Rangkaian Festival Merti Bumi Terung tidak hanya berhenti pada karnaval. Sebelumnya, masyarakat juga melaksanakan tradisi jamasan pusaka yang dipusatkan di kantor desa setempat. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus pengingat bahwa kemajuan desa harus tetap berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Puncak kegiatan ditandai dengan jalan sehat yang dipusatkan di lapangan Desa Terung. Ribuan warga ikut memeriahkan kegiatan tersebut, menjadikan festival bukan sekadar acara seremonial, namun sebagai ruang bertemunya seluruh elemen masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.
Festival Merti Bumi Terung memberikan pesan kuat bahwa budaya akan tetap hidup ketika masyarakat mau merawat dan mengembangkannya. Tradisi tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus mampu menjadi energi untuk membangun desa, mengenalkan potensi lokal, serta menanamkan nilai gotong royong kepada generasi penerus.
Melalui Festival Merti Bumi, Desa Terung menunjukkan bahwa sebuah desa memiliki kekuatan besar ketika budaya, kreativitas, dan potensi masyarakat berjalan dalam satu langkah bersama. (Gun)






