![]() |
| Persembahan Pagelaran Seni Reog |
Magetan, beritagress.com-Tradisi Bersih Desa kembali menjadi denyut kehidupan masyarakat Dukuh Babadan, Desa Kalang, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Memasuki Bulan Suro atau Muharam 1448 Hijriah, warga setempat menggelar rangkaian kegiatan adat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keselamatan, serta keberkahan yang diberikan kepada masyarakat selama setahun terakhir.
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Bersih Desa, Dukuh Babadan menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan, memperkuat nilai gotong royong, serta menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Antusiasme warga terlihat sejak pagi hingga sore hari, mulai dari kegiatan doa bersama, kenduri, hingga pagelaran seni tradisional yang menjadi daya tarik utama masyarakat.
Nuansa sakral Bulan Suro berpadu dengan semangat pelestarian budaya dalam pagelaran seni reog yang digelar di tengah-tengah masyarakat. Warga larut dalam kemeriahan pagelaran yang menampilkan salah satu kesenian di Magetan, mulai dari Reog Jathil Lawas Gagrak Magetan, yang sarat nilai historis dan filosofi perjuangan, hingga Jathil gaya baru yang menghadirkan sentuhan kreatif tanpa meninggalkan akar tradisi. Puncak pertunjukan semakin memukau ketika para seniman menampilkan atraksi Ganongan yang enerjik dan ditutup dengan kemegahan Dhadhak Merak, simbol kekuatan, keberanian, dan kejayaan budaya Jawa yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kepala Desa Kalang, Suwardi, saat dikonfirmasi di lokasi mengatakan, bahwa tradisi Bersih Desa bukan hanya menjadi agenda budaya, melainkan juga sarana membangun kebersamaan dan memperkuat identitas masyarakat.
"Bersih Desa Babadan merupakan warisan leluhur yang wajib kita jaga bersama. Tradisi ini mengajarkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Melalui pagelaran Reog Jathil Lawas Gagrak Magetan, Jathil gaya baru, Ganongan hingga Dhadhak Merak, kami ingin menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengandung nilai-nilai kehidupan bagi generasi muda," ucap Suwardi, Kamis (18/6/2026)
Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan desa. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Kalang terus memberikan ruang bagi para pelaku seni dan generasi muda untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan budaya yang diselenggarakan di desa.
"Kami berharap tradisi Bersih Desa ini dapat menjadi media edukasi budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat. Ketika warga berkumpul, bergotong royong, dan bersama-sama melestarikan budaya, maka sesungguhnya kita sedang membangun karakter desa yang kuat dan berdaya saing tanpa kehilangan jati dirinya," tambahnya.
Kegiatan Bersih Desa di Dukuh Babadan menjadi bukti bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, tradisi yang dirawat dengan baik mampu menjadi fondasi moral, sosial, dan budaya bagi masyarakat.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, warga Babadan menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur peninggalan leluhur masih tetap hidup, tumbuh, dan menjadi perekat kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui semangat Bulan Suro yang penuh makna, masyarakat Dukuh Babadan, Desa Kalang tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus menjaga harmoni, melestarikan budaya, dan mewariskan kekayaan kearifan lokal kepada generasi penerus bangsa. (Gun)






