Magetan, beritagress.com-Kepadatan lalu lintas di perlintasan kereta api Tebon–Bogorejo, Kecamatan Barat, kian menjadi perhatian masyarakat dan legislatif. Selain memicu antrean kendaraan setiap hari, akses tersebut juga menjadi jalur vital bagi aktivitas pertanian warga menuju area persawahan di Desa Bogorejo.
Rencana penutupan perlintasan oleh PT Kereta Api Indonesia Daop 7 Madiun demi faktor keselamatan dinilai perlu diimbangi dengan penyediaan akses alternatif oleh Pemerintah Kabupaten Magetan agar mobilitas warga tidak terganggu.
Warga Bogorejo, Gendut, mengaku masyarakat memahami pentingnya keselamatan perjalanan kereta api. Namun menurutnya, pemerintah juga harus memikirkan kebutuhan warga yang selama ini menggantungkan aktivitas pertanian melalui jalur tersebut.
“Kalau untuk keselamatan tentu kami mendukung. Tapi sebelum ditutup harus ada solusi dulu, karena itu akses utama warga menuju sawah,” ucapnya
Ia menyebut, akses itu selama ini digunakan petani untuk mengangkut hasil panen maupun kebutuhan pertanian lainnya. Sedikitnya sekitar 40 hektare lahan pertanian warga disebut bergantung pada jalur tersebut.
Tak hanya berdampak pada sektor pertanian, kondisi perlintasan Tebon–Bogorejo juga dinilai sudah tidak mampu menampung volume kendaraan yang terus meningkat. Kemacetan bahkan kerap terjadi pada jam sibuk dan meningkat drastis saat momentum libur panjang seperti Lebaran maupun Tahun Baru.
Melihat kondisi tersebut, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Magetan dari Fraksi PAN, Anton Praktekno, mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan akses perlintasan baru yang menghubungkan Kelurahan Tebon dengan Desa Bogorejo.
“Perlintasan yang ada sekarang sudah tidak ideal. Hari biasa saja padat, apalagi saat libur besar. Antrean kendaraan bisa sangat panjang,” katanya, Senin (11/5/2026).
Menurut Anton, pembangunan jalur baru bukan sekadar untuk mengurai kemacetan, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi masyarakat dan keberlangsungan sektor pertanian di wilayah Kecamatan Barat.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur jalan. Ada kepentingan petani, aktivitas ekonomi warga, dan ketahanan pangan daerah yang harus dipikirkan,” tegasnya.
Dorongan serupa juga disampaikan anggota Komisi D DPRD Magetan Fraksi PKB, Anton Sholihin. Ia menilai keberadaan akses baru nantinya akan memberikan dampak luas bagi masyarakat di sejumlah desa sekitar.
“Kalau jalur baru ini terealisasi, manfaatnya besar sekali. Tidak hanya untuk warga Tebon dan Bogorejo, tetapi juga masyarakat Manjung, Panggung, dan desa sekitar yang ingin menuju Kota Magetan,” ujarnya.
Rencana pembangunan akses baru tersebut diproyeksikan memiliki panjang sekitar dua kilometer. Jalur akan dimulai dari kawasan Jalan Raya Manjung–Mangge di sebelah timur Puskesmas Tebon, kemudian mengarah ke utara melintasi rel kereta api hingga terhubung ke jalan kanal menuju Desa Bogorejo.
Masyarakat berharap pembangunan akses tersebut segera masuk tahap realisasi dan tidak berhenti sebatas rencana. Sebab, keberadaan jalur alternatif dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya aktivitas transportasi dan pertanian di wilayah Kecamatan Barat. (Gun)





