Magetan, beritagress.com — Di tengah keluhan panjang soal infrastruktur desa yang kerap tak kunjung tersentuh perbaikan, warga Dukuh Puhtelu RT 01/RW 04, Desa Temboro, Kecamatan Karas, justru menunjukkan pelajaran berharga tentang arti kepedulian dan kekuatan gotong royong. Sabtu (06/06/2026), puluhan warga turun langsung melakukan kerja bakti pengecoran jalan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keluhan masyarakat.
Tak sekadar kerja bakti biasa, pembangunan jalan sepanjang 180 meter dengan lebar 6 meter dan ketebalan cor 15–20 sentimeter itu dilakukan secara swadaya penuh. Seluruh biaya pembangunan ditanggung pribadi oleh Basori, pengusaha tambang Temboro sekaligus pemilik CV Permata Sinar Mulia. Sementara pelaksanaan pengerjaan dipercayakan kepada CV Permata Sinar Mulia yang dikelola Sunardi Bagong, dengan dukungan tenaga gotong royong masyarakat setempat.
Sebelumnya, kondisi jalan tersebut dikenal rusak parah dan dipenuhi lubang di berbagai titik. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan keselamatan pengguna jalan. Warga yang melintas, termasuk anak-anak sekolah dan para petani, kerap mengeluhkan akses yang sulit dilalui.
Namun daripada terus menunggu bantuan yang belum tentu datang, warga memilih bergerak. Dari sebuah musyawarah sederhana bersama masyarakat, lahirlah kesepakatan untuk memperbaiki jalan secara mandiri.
“Jalan ini sudah terlalu lama rusak dan menjadi beban warga setiap hari. Karena tidak ada bantuan yang turun, akhirnya kami sepakat untuk bergerak bersama. Dana berasal murni dari pribadi Pak Basori, sedangkan masyarakat bergotong royong menyumbangkan tenaga,” ucap Suyono. Sabtu (6/6/2026)
Keputusan tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan tidak selalu harus bergantung pada pemerintah ataupun bantuan eksternal. Ketika kepedulian sosial bertemu dengan semangat kebersamaan, persoalan yang selama ini dianggap berat ternyata mampu diselesaikan bersama.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia tampak bahu-membahu mengerjakan pengecoran. Ada yang mengatur lalu lintas, mengangkut material, menyiapkan kebutuhan pekerja, hingga membantu meratakan cor jalan. Kehadiran truk molen yang disewa khusus juga mempercepat proses pengerjaan, sehingga pengecoran mampu diselesaikan hanya dalam waktu satu hari.
“Kami bersyukur pekerjaan berjalan lancar. Semua warga turun tangan tanpa pamrih. Inilah kekuatan kebersamaan yang sesungguhnya,” lanjut Suyono.
Semangat warga Dusun Puhtelu pun mendapat apresiasi luas. Sunardi Bagong, orang kepercayaan Basori yang turut mendampingi proses pengerjaan, menyebut kegiatan tersebut sebagai contoh nyata bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan besar ketika mau bersatu dan peduli terhadap lingkungannya sendiri.
“Ini bukan sekadar membangun jalan, tetapi membangun kesadaran sosial. Jalan yang dulu rusak parah kini berubah menjadi akses yang layak berkat kekompakan warga dan kepedulian Pak Basori. Semangat seperti ini harus dijaga karena bisa menjadi inspirasi bagi dusun-dusun lain,” ujarnya.
Pembangunan jalan tersebut kini membawa harapan baru bagi warga Dukuh Puhtelu. Aktivitas masyarakat menjadi lebih aman, nyaman, dan lancar. Anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa khawatir terjatuh di jalan berlumpur, sementara roda ekonomi warga juga dipastikan akan lebih terbantu.
Di tengah zaman ketika budaya individualisme mulai mengikis kehidupan sosial masyarakat, apa yang dilakukan warga Dukuh Puhtelu menjadi pengingat bahwa gotong royong bukan sekadar warisan budaya, melainkan solusi nyata yang masih relevan hingga hari ini. (Sapari)





