![]() |
| Aksi unjuk rasa warga di sekitaran lahan galian C tambang selawe Desa Taji |
Magetan, beritagress.com-Warga Desa Taji, Kecamatan Karas Magetan menggelar aksi unjuk rasa menuntut pihak tambang Selawe segera memenuhi kewajiban yang dinilai belum diselesaikan.
Dalam aksi tersebut, masyarakat meminta perusahaan merealisasikan reklamasi lahan bekas tambang, pemasangan patok batas wilayah, hingga pembenahan dampak lingkungan sekitar.
Aksi warga berlangsung dengan membawa sejumlah aspirasi yang ditujukan langsung kepada pihak perusahaan. Masyarakat menilai berbagai komitmen yang sebelumnya disampaikan hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.
Di lokasi yang sama, Kepala Desa Taji, Sigit Supriyadi, mengatakan tuntutan warga berkaitan dengan janji perusahaan kepada masyarakat. Menurutnya, sebagian lahan memang sudah dilakukan perataan, namun pemasangan patok batas wilayah masih belum terlaksana.
“Demo ini terkait janji pemilik tambang kepada warga. Ini termasuk reklamasi dan lain-lain. Sampai sekarang patok-patoknya belum ada. Kalau reklamasi sebagian sudah diratakan, tapi patoknya belum ada,” ucap Sigit, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan, masyarakat pada dasarnya tidak menolak aktivitas pertambangan selama perusahaan lebih dulu menepati komitmen yang pernah disampaikan kepada warga.
“Ya sanggup, segera direklamasi, terus pembenahan jalan. Nah itu ditepati dulu janji-janjinya. Setelah itu insya Allah nanti baru lanjut produksi,” tegasnya.
Selain reklamasi, warga juga menyoroti kondisi aliran irigasi di sekitar lokasi tambang yang dinilai belum tertata dengan baik. Jika tidak segera dibenahi, hal tersebut dikhawatirkan mengganggu saluran air pertanian warga.
Menurutnya, keterlambatan penyelesaian batas lahan berpotensi memicu konflik sosial antarpetani maupun antarwarga.
“Kalau nggak segera diselesaikan, antar sedulur tani dan tetangga ini nanti mesti musuhan. Nek lemah niku kan rumit, hati-hati (kalau tanah itu kan rumit, hati-hati),” pungkasnya.
Karena itu, pemerintah desa bersama masyarakat meminta aktivitas tambang dihentikan sementara hingga seluruh kewajiban perusahaan diselesaikan. Warga berharap persoalan ini segera mendapat solusi demi kepentingan bersama. (Gun)
“Ya sanggup, segera direklamasi, terus pembenahan jalan. Nah itu ditepati dulu janji-janjinya. Setelah itu insya Allah nanti baru lanjut produksi,” tegasnya.
Selain reklamasi, warga juga menyoroti kondisi aliran irigasi di sekitar lokasi tambang yang dinilai belum tertata dengan baik. Jika tidak segera dibenahi, hal tersebut dikhawatirkan mengganggu saluran air pertanian warga.
Menurutnya, keterlambatan penyelesaian batas lahan berpotensi memicu konflik sosial antarpetani maupun antarwarga.
“Kalau nggak segera diselesaikan, antar sedulur tani dan tetangga ini nanti mesti musuhan. Nek lemah niku kan rumit, hati-hati (kalau tanah itu kan rumit, hati-hati),” pungkasnya.
Karena itu, pemerintah desa bersama masyarakat meminta aktivitas tambang dihentikan sementara hingga seluruh kewajiban perusahaan diselesaikan. Warga berharap persoalan ini segera mendapat solusi demi kepentingan bersama. (Gun)






