![]() |
| Koordinator Forum Rumah Kita (FRK), Rudi Setyawan (Rugosl |
Magetan, beritagress.com-Awan mendung yang menggantung di langit tak lagi sekadar pertanda turunnya hujan. Bagi sebagian warga di Kartoharjo, wilayah barat, hingga pusat kota, suasana itu justru memunculkan kegelisahan. Ingatan akan genangan air yang merangsek ke rumah, merusak perabot, hingga melumpuhkan jalanan, masih begitu lekat.
Fenomena ini memantik perhatian dari Forum Rumah Kita (FRK). Melalui Koordinatornya, Rudi Stiawan, disampaikan bahwa persoalan banjir di Magetan tidak semata disebabkan oleh tingginya curah hujan. Lebih dari itu, ada persoalan mendasar terkait “jalan pulang” air yang kian hilang.
“Air hujan hari ini kehilangan jalur untuk mengalir dan meresap. Ini yang membuat genangan semakin sering terjadi,” ungkap Rudi. Minggu (5/4/2026)
Menurutnya, pesatnya pembangunan hunian dan perkantoran yang tidak diimbangi dengan tata kelola lingkungan telah menyebabkan permukaan tanah tertutup material keras seperti beton, paving, dan aspal. Akibatnya, tanah kehilangan kemampuan alaminya dalam menyerap air.
Di sisi lain, kondisi drainase yang tak optimal memperparah keadaan. Endapan lumpur serta sampah rumah tangga membuat saluran air tersumbat. Kombinasi dua persoalan ini menjadikan banjir bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman yang nyata.
Menjawab kondisi tersebut, FRK menggagas sebuah gerakan berbasis masyarakat bertajuk “Resik Salurane, Nyerep Lemahe”. Gerakan ini mengedepankan semangat gotong royong sebagai solusi konkret.
Langkah pertama, Resik Salurane, mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kerja bakti dengan membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing. Upaya ini dinilai penting untuk memastikan aliran air tetap lancar hingga ke hilir.
Sementara itu, langkah kedua, Nyerep Lemahe, mendorong masyarakat untuk membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) di lingkungan rumah, sekolah, hingga perkantoran. Teknologi sederhana ini diyakini mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengembalikan daya serap tanah sekaligus menjaga cadangan air tanah.
Rudi menegaskan, gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pemerintah diharapkan mengambil peran sebagai penggerak kebijakan hingga tingkat bawah, sementara sektor swasta dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis. Ini kerja bersama. Masyarakat menjadi ujung tombak,” tegasnya.
FRK sendiri berkomitmen untuk mengawal gerakan tersebut agar tidak berhenti pada seremonial semata. Pendataan dan verifikasi lapangan akan dilakukan untuk memastikan setiap langkah berjalan efektif.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Di tengah ancaman banjir yang kian nyata, gotong royong kembali digaungkan sebagai solusi yang paling relevan.
Magetan kini dihadapkan pada pilihan: membiarkan masalah terus berulang, atau bergerak bersama mengembalikan fungsi alam yang mulai terabaikan.
Seperti yang digaungkan dalam gerakan ini, “Magetan Kumandhang, Yen Kabeh Tumandang!” — ketika semua bergerak, harapan itu bukan lagi sekadar wacana.
(Gun)





