* Di tulis oleh Handika.Sp. Mahasiswa STKIP PGRI PACITAN Prodi Sejarah
Pacitan ,beritagress.com, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan kembali menggelar tradisi Megengan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur dalam menyambut bulan penuh berkah.
Megengan berasal dari kata " Megeng" yang artinya menahan, Tradisi ini melambangkan persiapan spiritual menahan diri dari hawa nafsu dan dosa.
Hingga Megengan dijadikan ritual khusus setiap menjelang bulan Ramadhan bagi kebanyakan orang Jawa
Desa Pelem misalnya, tradisi ini diisi dengan kegiatan kirim doa untuk arwah leluhur yang dilakukan secara bergantian di setiap rumah warga. Pelaksanaan doa dibagi berdasarkan kelompok lingkungan atau perwilayahan, sehingga seluruh masyarakat dapat berpartisipasi secara tertib dan merata.
Setiap malam menjelang Ramadan, satu rumah menjadi tuan rumah pelaksanaan doa bersama. Warga sekitar berkumpul membawa Tumpeng berbentuk hidangan sederhana berisi nasi berkat, dan tidak lupa dengan kue Apem ( Afwun ,bahasa Arab artinya pengampunan/ maap) Jadi ritual doa bersama dengan sarana tumpeng dan kue apem ini merupakan simbol permintaan ampunan kepada Tuhan YME ,dan dilengkapi jajanan tradisional yang kemudian didoakan dan dibagikan kepada jamaah yang hadir.
Suasana khidmat terasa saat lantunan tahlil dan doa dipanjatkan bersama.
Selain dilaksanakan dari rumah ke rumah, sebagian warga juga menggelar Megengan di masjid dan langgar (musala) setempat.
Selain moment untuk kirim doa, Tradisi Megengan ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar warga sekaligus menguatkan nilai spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Prosesi doa dipimpin oleh tokoh adat desa yang juga dikenal sebagai ulama lokal. Kehadiran beliau menjadi simbol perpaduan antara nilai budaya dan ajaran agama yang berjalan harmonis di tengah masyarakat sekaligus memberikan siraman rohani tentang pentingnya menjaga persatuan, memperbanyak ibadah, serta membersihkan hati sebelum memasuki Ramadan.
Kepala desa setempat menyampaikan bahwa tradisi Megengan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan budaya yang sarat makna.
Melalui Megengan, kita diajak untuk mendoakan leluhur, mempererat persaudaraan, dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin menyambut Ramadan.
Warga berharap tradisi Megengan di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Bagi masyarakat setempat, Megengan bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga identitas dan wujud kebersamaan dalam menyongsong bulan suci Ramadan.





