Pacitan, beritagress.com,-Dalam rangka bersih desa Sekar kecamatan Donorojo tradisi budaya adat Ceprotan di gelar, minggu, 18/5 yang bertempat di lapangan desa sekar dan di hadiri pejabat forkopimda Pacitan serta Forkopimca kecamatan Donorojo dan ribuan pengunjung dari berbagi desa.
Diketahui,Pacitan memiliki tradisi unik bernama Ceprotan. Tampilan budaya asli Desa Sekar, Donorojo itu sangat atraktif. Yakni menampilkan dua kelompok pemuda saling lempar.
Adapun benda yang dilempar pun bukan asal-asalan. Tapi berupa buah kelapa muda jenis cengkir yang telah direndam selama beberapa hari. Bagian sabut juga harus dikupas bersih sebelum digunakan untuk saling melempar.
"Jadi tradisi Ceprotan itu sudah ada sejak turun temurun terutama menyangkut tokoh Kaki Godhek yang babat alas Desa Sekar," ujar Ketua Lembaga Adat Desa Sekar, Agus,
Agus mengatakan ceprotan berlatarbelakang Kerajaan Jenggala. Konon kala itu ada seorang pria asal Desa Kalak bernama Kaki Godhek. Tokoh yang dikenal sakti mandraguna itu memutuskan membuka permukiman baru.
Kala itu dirinya tengah membersihkan hutan. Tujuannya untuk dijadikan hunian. Pada saat bersamaan datanglah seorang putri bernama Dewi Sekartaji. Perempuan bernama asli Galuh Candrakirana itu tengah berkelana.
"Dewi Sekartaji kehausan setelah melakukan perjalanan jauh. Lalu minta minum berupa kelapa muda," papar Agus menyitir cerita nenek moyang.
Kaki Godhek pun langsung menyanggupi permintaan putri yang sejak awal diketahuinya sebagai bangsawan. Hanya saja dirinya meminta sedikit waktu. Pasalnya di sekitar tempat itu tak ada pohon kelapa
Langkahnya langsung tertuju ke pesisir selatan. Seperti diketahui sepanjang kawasan pantai Pacitan memang merupakan daerah penghasil kelapa. Uniknya, dalam sekejap Kaki Godek sudah kembali dengan membawa buah kelapa.
"Namanya orang dulu kan sakti-sakti ya. Jadi meskipun jaraknya jauh bisa ditempuh cepat," tambah Agus .
Dewi Sekartaji senang bukan kepalang. Ini setelah keinginannya meminum air kelapa terwujud. Hanya saja karena volume air kelapa cukup banyak, sang putri tak mampu menghabiskan. Dia lantas meletakkan tempurung yang masih ada airnya tak jauh dari tempatnya duduk.
Tempat diletakan tempurung itu kelak keluar sumber air yang masih terpelihara hingga saat ini. Sementara, sebelum melanjutkan pengembaraannya Dewi Sekartaji meninggalkan pesan. Yakni agar momen tersebut diabadikan dengan peringatan dengan menggunakan perantaraan buah kelapa.
"Pesan lain dari Dewi Sekartaji agar lahan permukiman itu diberi nama Sekar. Jadi Ceprotan itu sendiri memang ada kait hubungannya dengan asal usul Desa Sekar," jelas Agus.(Cak Met)






