Magetan, beritagress.com-Ditahun 2024 ini, Bangsa Indonesia telah melaksanakan pesta demokrasi, yaitu Pemilu serentak pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dan pemilihan umum legislatif (Pileg) untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota yang diselenggarakan pada 14 Februari 2024 Kemarin, dan pemilihan kepala dan wakil kepala daerah (pilkada) pada November 2024 mendatang.
Ini menjadi kesempatan yang istimewa bagi bangsa dan negara Indonesia untuk mewujudkan kehidupan demokrasi yang berkualitas sehingga hasil yang positif selama lima tahun ke depan dapat dinikmati seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Pemilihan Umum (Pemilu) di tahun ini, tepatnya di tanggal 14 Februari 2024 bisa dikatakan selesai hampir 100 persen.
Meski ada beberapa proses yang saat ini masih berjalan, namun, dari berbagai unsur baik dari Pemerintahan, TNI/Polri, Tokoh Agama, hingga masyarakat masih tetap saling mengawal, saling mendukung, dan saling mencerminkan kedamaian.
Tak hanya itu, di Bumi Mageti atau Kabupaten Magetan juga bisa dikatakan telah sukses dalam proses Pemilu tanpa adanya kendala di dalamnya.
Tak luput dari hal tersebut, Jargon Pemilu Damai pun juga tak lepas di Bumi Mageti, dari mulai pra pelaksanaan hingga akhir pelaksanaanpun masih dipegang teguh dari berbagai unsur.
Bahkan Pemerintah Daerah tak bosan-bosanya memberikan sosialisasi dengan bahasa yang selalu kita dengar mengkritik boleh, tetapi tidak boleh menjelek-jelekkan, adu argumentasi boleh, tanpa harus saling menjatuhkan.
Kedamaian di Bumi Mageti tentang Pemilu juga sering kita dengar di tongkrongan warung-warung, sebagai contoh meski beda pilihan mereka tetap memegang teguh kedamaian.
Seperti halnya mbah Bayan yang akrab disapa masyarakat, Beliau ini setiap paginya menyempatkan ke warung sebelum melakukan aktifitas di sawah, saat ngobrol dengan teman nya, Mbah Bayan tanya sama seseorang yang beda pilihan calon presiden denganya.
"Piye pilihanmu menang ? (gimana pilihanmu menang ?) Tanya mbah bayan sambil sedikit tersenyum.
Ditimpali dengan seseorang yang diajak bicara, "yo urung ngerti urung enek siaran (ya belum tahu, belum ada siaran), ucap mbah Sugi yang diajak bicara.
"Alah, menang kalah wes biasa, arepo sopo sing dadi Presiden awak e dewe yo tetep ngene iki (menang kalah sudah biasa, siapapun yang jadi Presiden kita tetap jadi seperti ini)," sahut Bandi yang mendengarkan percakapan.
Dari percakapan ini kita bisa tahu, bahwa kedamaian dalam perbedaan pendapat bisa menjadikan keutuhan Bangsa dan Negara meskipun dari kalangan bawah.
(Gun)






